Penjelasan Serangan DDos dan Cara Mengatasinya

Illustrasi serangan DDos (Foto: Pixabay)

ARENA DIGITAL –Dalam ranah keamanan siber yang terus berkembang, serangan Distributed Denial of Service (DDoS) telah muncul sebagai ancaman yang sangat besar, mampu mengganggu layanan online dan menyebabkan kerusakan signifikan pada bisnis dan organisasi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan apa itu serangan DDoS, cara kerjanya, dan strategi untuk mengurangi dampaknya.

1. Apa itu Serangan DDoS?

Serangan DDoS melibatkan layanan online target yang berlebihan, seperti situs web atau jaringan, dengan membanjiri layanan tersebut dengan volume lalu lintas yang sangat besar. Berbeda dengan serangan Denial of Service (DoS) biasa, yang diluncurkan dari satu sumber, serangan DDoS memanfaatkan jaringan komputer yang disusupi, membentuk botnet, untuk memperkuat dampaknya.

2. Bagaimana Cara Kerja Serangan DDoS?

Serangan DDoS mengeksploitasi keterbatasan infrastruktur target dengan membanjirinya dengan lalu lintas yang melebihi kapasitasnya. Banjir permintaan ini bisa datang dalam berbagai bentuk, termasuk permintaan HTTP, UDP, atau paket ICMP. Besarnya volume lalu lintas masuk memenuhi bandwidth target, menjadikan layanannya tidak dapat diakses oleh pengguna yang sah.

3. Jenis Serangan DDoS

Serangan Volumetrik: Membanjiri target dengan volume lalu lintas yang tinggi, sehingga melebihi bandwidthnya.
Serangan Protokol: Memanfaatkan kerentanan dalam protokol jaringan, menghabiskan sumber daya server.
Serangan Lapisan Aplikasi: Menargetkan aplikasi atau layanan tertentu, seringkali sulit dibedakan dari lalu lintas yang sah.

4. Motivasi Dibalik Serangan DDoS

Hacktivisme: Didorong oleh motif sosial atau politik untuk membuat pernyataan.
Perang Cyber: Digunakan sebagai alat untuk mengganggu infrastruktur penting.
Keunggulan Kompetitif: Bisnis mungkin ditargetkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

5. Strategi Mitigasi

Pemantauan Jaringan dan Analisis Lalu Lintas: Gunakan alat untuk memantau lalu lintas jaringan dan mendeteksi pola yang tidak biasa.
Penyeimbangan Beban: Mendistribusikan lalu lintas masuk ke beberapa server untuk mencegah kewalahan pada satu titik.
Firewall Aplikasi Web (WAF): Memfilter dan memantau lalu lintas HTTP antara aplikasi web dan internet, memberikan perlindungan terhadap berbagai serangan lapisan aplikasi.
Pembatasan Tarif: Tetapkan batas jumlah permintaan yang dapat diterima oleh server, sehingga mencegahnya kewalahan.
Jaringan Pengiriman Konten (CDN): Mendistribusikan konten ke beberapa server secara global, meningkatkan kinerja dan mengurangi serangan DDoS.

Baca Juga >>>  Seperti Apa Backlink Website yang Baik? Ini Penjelasannya

6. Respons dan Kesiapsiagaan terhadap Insiden

Buat Rencana Respons Insiden: Tetapkan rencana komprehensif yang merinci langkah-langkah yang harus diambil selama dan setelah serangan DDoS.
Berkolaborasi dengan ISP: Bekerja dengan Penyedia Layanan Internet untuk mengidentifikasi dan memfilter lalu lintas berbahaya.
Perbarui Tindakan Keamanan Secara Teratur: Selalu perbarui perangkat lunak, firewall, dan sistem deteksi/pencegahan intrusi untuk mempertahankan diri dari ancaman yang terus berkembang.

7. Implikasi Hukum:

Laporkan kepada Pihak Berwenang: Serangan DDoS adalah tindakan ilegal, dan melaporkan insiden kepada penegak hukum dapat mengarah pada identifikasi dan penuntutan pelakunya.
Menerapkan Perlindungan Hukum: Pastikan kontrak dan ketentuan layanan menyertakan klausul yang menangani serangan DDoS dan konsekuensi hukumnya.

Serangan DDoS menimbulkan ancaman serius terhadap layanan dan bisnis online. Dengan memahami berbagai jenis serangan DDoS dan menerapkan strategi mitigasi yang kuat, organisasi dapat memperkuat pertahanan mereka terhadap ancaman keamanan siber yang menyebar dan mengganggu ini. Selain itu, tetap waspada, memperbarui langkah-langkah keamanan secara rutin, dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait merupakan aspek penting dari strategi pertahanan komprehensif dalam menghadapi ancaman dunia maya yang terus berkembang.